Resume Buku Tauhid Membentuk Pribadi Muslim Karya Abuya Haji Ahmad Rasyid Sutan Mansur (Buya Mansur) - Bagian 1

Oleh 
Muhamad Fadli

Buku yang berjudul Tauhid Membentuk Pribadi Muslim ini pada awalnya merupakan rekaman dari tape recorder, diolah oleh murid-murid beliau yang terpercaya lalu disusun kembali dengan 'tashih' beliau untuk dijadikan buku. Penyusun buku dari hasil rekaman ini oleh  murid beliau yaitu H. A. Malik Ahmad. Buku yang saya resume ini dalam cetakan ketiga tahun 1981, dimana cetakan pertamanya ialah tahun 1963. Saat meresume buku ini saya berusaha menyesuaikan kosa kata yang pas untuk digunakan dan dibaca saat ini, mohon maaf apabila ada bahasa yang kurang tepat.

Abuya Haji  Ahmad Rasyid Sutan Mansur sejak masa muda telah mempelajari dan mendalami pemahaman tentang agama islam, salah satu murid beliau yang tertua adalah Buya Hamka serta pemimpin-pemimpin Islam terkenal seperti Mohammad Natsir, Prof. Dr. H. Rasyidi, Prof. Dr. H. Kasman Singodimedjo, mereka tafakkur mendengarkan keterangan beliau tentang Islam. 

Buku tauhid ini perlu kita baca karena di tengah zaman yang mudah sekali menggoyahkan iman kita, perlu adanya pegangan hidup yang berlandaskan akidah yang bersumber dari Wahyu Ilahi, itulah tauhid. 

I. Maksud dan Tujuan Tauhid

A. Pengetahuan Tentang Tauhid

Buya Mansur menerangkan bahwa tauhid dalam pertumbuhannya yang bermula sekali masuk melalui didikan yang amat sederhana saja yaitu dari apa yang kita lihat sehari-hari , dari pekerjaan ibu bapak dan keluarga kita sendiri, dan dari apa yang kita dengar dari pembicaraan-pembicaraan mereka, juga dari apa yang kita alami dalam pengajian-pengajian dan semuanya ditampung oleh panca indra dengan cara yang sederhana. Cara masuknya tauhid semacam itu belum menjamin pertumbuhan tumbuhnya pribadi yang bertauhid

Adapun sifat yang terkandung dalam kata-kata "Tauhid" dalam tata bahasa arab termasuk bab TAF'IL yang susunannya: Wahhada (menyatukan)- Yuwahhidu (akan tetap menyatukan)- tauhidan (sungguh disatukan). Dari susuan kata tersebut Kata Buya Mansur dipahami bahwa tauhid itu harus berusaha menyatukan Tuhan dengan arti yang tepat, yakni i'tikad yang yakin tentang satunya Allah, jadi bukanlah Tiga Tuhan yang disatukan. Bukanlah yang dimaksud dengan tauhidullah menyatu-nyatukan Tuhan, atau beberapa Tuhan disatukan tetapi yang dimaksud ialah meyakinkan hati bahwa Tuhan Allah itu hanya satu. Keyakinan yang begitulah yang ditekadkan dalam kalbu, diyakinkan dalam hati, digenggam erat dalam perasaan, ruh dan pikiran kita.

B. Tauhid Sumber Pikiran dan Akhlak

Buya Mansur mengaskan bahwa Tauhid sebagai pegangan hidup bersifat pokok pangkal atau sumber pikiran dan alam pikiran dari ummat tauhid sebagaimana syirik adalah menjadi pokok pangkal dari alam pikiran orang musyrik dan Atheis (tidak bertuhan). Sebagaimana Allah berfirman dalam surat Al-Ikhlas dan terjemahannya sangat jelas sekali. Maka pokok pikiran yang keluar dari keyakinan kita yaitu: DARI MULAI SATU, AKHIRNYA KEPADA YANG SATU, DAN DIA DALAM KESATUAN..

C. Tingkatan Tauhid

Sifat tauhid melangkah ada tiga tingkatan menurut buka ini yaitu:

1. Tingkatan pertama bersifat tahu, dari tahu kemudian sampai batasnya ialah mengetahui. 

A. Tahu itu biasanya didapatkan dengan tidak sengaja misalnya kita kenal orang dari ucapan orang lain, beda halnya dengan mengetahui.

B. Mengetahui: sifat ini hanya dapat kita capai dengan sengaja yaitu kalau ada hulunya harus ditelusuri, kalau ada muaranya mesti diselidiki.

2. Tingkatan kedua bersifat kenal

Dalam buku ini diterangkan bahwa perkenalan dengan Tuhan adalah satu usaha yang harus dijalankan dengan riadhah, dengan latihan diri sendiri, bukan hanya dalam pikiran, jadi harus dengan perjuangan. Kenal disini bisa dengan melihat yang tampak yaitu kejadian-kejadian yang ada di alam dan lingkungan kita merasakan sendiri bahwa Kekuasaan Allah ada dalam alam semesta.

3. Tingkatan Ketiga ialah Insaf

Tingkat sebelumnya ialah tingkatan kenal dan ketiga iala Insaf dimana diri manusia sadar kepada Tuhan dan melakukan aktifitas hanya untuk mencapai RidhaNya.

II. Cara Mendalami Ilmu Tauhid

A. Lima Rentetan Pertanyaan

Buya Mansur menerangkan bahwa mencari pengertian hakikat alam, kita harus menjawab lima pertanyaan ini:

1. mahia (Apa Itu)
2. kaifa (bagaimana)
3. aina (di mana)
4. mata (kapan)
5. kam (berapa)

Sudah menjadi tabiat manusia kelima pertanyaan ini muncul sejak belajar bicara, segala-galanya ingin diketahui dan bertanya kepada kedua orang tua. Maka jawaban-jawaban dari lima pertanyaan itu hanya bisa dipecahkan dari wahyu yaitu Alquran dan sunnah nabi.

Untuk bagian 1 ini sampai sini dulu, karena penulis butuh waktu untuk mencerna tulisan karya Buya Mansur ini hehe. terlebih tulisan ini terbit dalam tahun era 80-an jadi butuh waktu untuk mengolah kata-kata yang sesuai

Posting Komentar

0 Komentar